Tulisan ini aku persembahkan untuk Kakak tercinta, Dienta yang ada di Purwakarta, I luv you, Sist dan untuk Bang Andy F. Noya atas inspirasinya di Kickandy.com.
Saya tidak ingin menyesal nanti, karena tidak sempat mengucapkan terima kasih atas semua kasih sayang Tata - panggilan kakakku atas semua kasih sayang yang sudah diberikan selama ini. Bagiku ini bukan aib, tapi sebuat penghargaan yang setinggi-tingginya..
Kakakku memang tidak sempurna, secara fisik saja salah satu kakinya terkena polio sejak berumur 5 tahun. Beruntungnya, karena Tata sangat mandiri.
Tata bukan juga tipe kakak yang cerewet, dia juga manusia biasa yang pernah putus asa. Tapi itu semua takkan menghapus rasa hormatku...
Sejak usiaku 10 tahun dan Tata ketika itu 12 tahun, kami diasuh oleh tante dan nenek karena papa memutuskan untuk hanya mengajak mama pindah tugas di Jakarta. Hal ini bisa dipahami oleh kami meskipun usia kami cukup muda. Gaji papa sebagai tentara takkan cukup jika untuk sekolah 2 anak dan biaya hidup yang berat di Jakarta.
Kami berdua besar dengan watak yang berbeda, dan hati yang beda. Kadang ada rasa iri karena ultah Tata dapat hadiah yang mewah dari Papa. Tapi kadang juga Tata iri karena aku disayang banyak orang. Tak pelak, pertengkaranpun sering terjadi sekalipun itu hanya masalah sepele.
Saat aku menginjak dewasa, aku menyadari bahwa Tata telah berusaha keras menjadi kakak dan penjaga yang baik untukku, memberikan contoh yang terbaik selama ini. Airmatanya sering menetes ketika aku melakukan sesuatu yang dianggapnya sebuah kebodohan, dan merelakan kuliahnya lebih masa dari yang seharusnya.
Hari ini aku membuka website Kick Andy, rasanya hati tergerak. Mensyukuri betapa aku beruntung mempunyai kakak meski dengan kekurangan fisiknya dia tak pernah berhenti untuk membahagiakan adiknya, menekan egonya. Bukan nilai uang yang dia telah keluarkan untuk memenuhi egoku, atau bahkan nilai harga dirinya ketika memberi dukungannya agar aku bisa memenuhi impian orang tua dengan menikah lebih dulu. Tapi kasihnya yang tak pernah kunilai selama ini. Atau bahkan sekedar mengucapkan terima kasih.
Aku benar-benar makhluk beruntung di dunia ini.
Dengan kondisi fisiknya, dia berusaha tegar menapaki hidup dan selalu memberi dukungan. Berkali-kali jatuh bangun dan mengalami kegagalan dalam urusan pribadi. Tapi dia yakin, waktu Tuhan tidak sama dengan waktunya. Bahkan dengan gajinya yang hanya sebagai operator gaji disebuah perusahaan, dia tetap berusaha membahagiakan orang lain, kemenakan dan sepupu. Meski aku yakin, untuk hidupnya pasti nilai rupiah itupun cukup untuk hidup dalam kesederhaaan.
Aku benar-benar beruntung memiliki kakak seperti Tata, yang selalu ada dan mendukungku, mampu merasakan setiap kesedihanku, membesarkan hatiku dan melindungiku. Aku bahkan sering malu, karena Tata tak pernah mengharap balas budi atau "mengkurs" dengan rupiah.
Sebelum semuanya terlambat dan ada penyesalan, dari hatiku yang paling dalam aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang sudah kuterima sampai detik ini. "Ta, kamu tak pernah gagal menjadi kakak yang baik. Hanya saja takdir yang membawanya jadi berbeda. Terima kasih ta....I love you....". Dan kubiarkan airmataku mengalir untuk kebahagiaan ini. Menyadari perjuangan dan nilai untuk sebuah kasih sayang tulus. Sebuah pelajaran hidup yang mahal harganya.
22 Desember 2008
0
Tiba-tiba banyak pahlawan kesiangan...
Kampanye pemilu dah dimulai. Perang baliho, perang stiker dan perang slogan.
Sepanjang jalan seperti album foto. Foto si A, foto si B sampe Z.... ada yang besar ampe kecil.
Sama sekali hilang rasa keindahan. Mungkin kalo pohon bisa berteriak, maka semua akan berteriak. Nyaris seluruh tubuhnya ditutupi oleh foto-foto orang yang mengaku sebagai pahlawan. Gimana mo jadi pahlawan, ama pohon yang nota bene juga makhluk hidup aja mereka ga peduli.
Ada juga yang tiba-tiba jadi dermawan, yang dulunya ga terkenal, tiba-tiba mo jadi pembicara diseminar anu, di resepsi si anu, di kondangan RT si anu. Rasanya jaman semakin sulit tapi orang lebih gampang menebar uang segampang menebar janji.
Resiko memilih nama dan wajah. Apalagi usahanya untuk lebih terkenal melebihi artis ternyata lebih susah dan nelangsa dibanding artis sesungguhnya. Pusing... Bayangkan jika artis, jelas dah masuk tv nasional, sinetron favorit, lagu digandrungi, dapet duit banyak dan terkenal. Nah calon-calon dewan terhormat, alih-alih mo terkenal, harus ngumpulin sekarung yang entah dari mana sumbernya, tebar senyum sana sini, tebar kehangatan, tebar uang, tebar pesona dan hasilnya terkenal hanya diwilayah Dapil, bukan seantero dunia Indonesia..
Tiba-tiba menjadi pujangga, mengakal-akal kata-kata tuk jadi slogan sekaligus membungkus maksud tersembunyi. Mungkin masyarakat masih bisa dibodohi dengan janji manis tak berakar. Yang penting terpilih, dapat gaji. Tapi ketika ditanya kinerja, urusan nanti, dan uruslah diri sendiri. Ops....
Mungkin orang-orang cerdas yang malah memilih golput. Melepas rasa bersalah, melepas rasa tertipu, melepas rasa menyesal jika ternyata pilihannya salah. Bukankah golput artinya mereka tau dan sadar bahwa masih banyak peribahasa-peribahasa kuno yang masih bisa dipegangnya. dalam laut masih bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tau???? memang lidah tak bertulang, jauh gunung seribu janji... dan banyak lagi.
Jika pengen menang, pilihlah orang yang dikenal dan dekat... tapi dengan waktu hanya 1 tahun, dengan Dapil yang baru ditentukan kemudian, bisakah orang mengabdi secara maksimal?? Menunjukkan kesungguhan arti pengabdian di orang-orang yang nanti mungkin memilihnya. Sedangkan perbandingan suara dan beban yang dipikul sama-sama berat. Kapan bisa maju Indonesia??
Kenapa partai politik tidak memilih calonnya yang memang telah terbukti berdedikasi. Yang benar-benar memiliki kata mengabdi yang sesungguhnya. Menghargai setiap lembaran rupiah. Seperti penyelamat hutan bakau, misalnya. Bukankah mereka telah terbukti mengabdi pada negara dan bangsanya. Darahnya telah terlihat merah tanpa harus melukai. Ataukah guru-guru tanpa pamrih di pelosok desa.. Aneh sungguh
Jangankan mereka pejuang tak terlihat yang masih hidup, dengan pahlawan yang sudah berkalang tanah saja sekarang seperti tak berbekas. Entah mo kemana putaran bumi membawa Indonesia??
Sepanjang jalan seperti album foto. Foto si A, foto si B sampe Z.... ada yang besar ampe kecil.
Sama sekali hilang rasa keindahan. Mungkin kalo pohon bisa berteriak, maka semua akan berteriak. Nyaris seluruh tubuhnya ditutupi oleh foto-foto orang yang mengaku sebagai pahlawan. Gimana mo jadi pahlawan, ama pohon yang nota bene juga makhluk hidup aja mereka ga peduli.
Ada juga yang tiba-tiba jadi dermawan, yang dulunya ga terkenal, tiba-tiba mo jadi pembicara diseminar anu, di resepsi si anu, di kondangan RT si anu. Rasanya jaman semakin sulit tapi orang lebih gampang menebar uang segampang menebar janji.
Resiko memilih nama dan wajah. Apalagi usahanya untuk lebih terkenal melebihi artis ternyata lebih susah dan nelangsa dibanding artis sesungguhnya. Pusing... Bayangkan jika artis, jelas dah masuk tv nasional, sinetron favorit, lagu digandrungi, dapet duit banyak dan terkenal. Nah calon-calon dewan terhormat, alih-alih mo terkenal, harus ngumpulin sekarung yang entah dari mana sumbernya, tebar senyum sana sini, tebar kehangatan, tebar uang, tebar pesona dan hasilnya terkenal hanya diwilayah Dapil, bukan seantero dunia Indonesia..
Tiba-tiba menjadi pujangga, mengakal-akal kata-kata tuk jadi slogan sekaligus membungkus maksud tersembunyi. Mungkin masyarakat masih bisa dibodohi dengan janji manis tak berakar. Yang penting terpilih, dapat gaji. Tapi ketika ditanya kinerja, urusan nanti, dan uruslah diri sendiri. Ops....
Mungkin orang-orang cerdas yang malah memilih golput. Melepas rasa bersalah, melepas rasa tertipu, melepas rasa menyesal jika ternyata pilihannya salah. Bukankah golput artinya mereka tau dan sadar bahwa masih banyak peribahasa-peribahasa kuno yang masih bisa dipegangnya. dalam laut masih bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tau???? memang lidah tak bertulang, jauh gunung seribu janji... dan banyak lagi.
Jika pengen menang, pilihlah orang yang dikenal dan dekat... tapi dengan waktu hanya 1 tahun, dengan Dapil yang baru ditentukan kemudian, bisakah orang mengabdi secara maksimal?? Menunjukkan kesungguhan arti pengabdian di orang-orang yang nanti mungkin memilihnya. Sedangkan perbandingan suara dan beban yang dipikul sama-sama berat. Kapan bisa maju Indonesia??
Kenapa partai politik tidak memilih calonnya yang memang telah terbukti berdedikasi. Yang benar-benar memiliki kata mengabdi yang sesungguhnya. Menghargai setiap lembaran rupiah. Seperti penyelamat hutan bakau, misalnya. Bukankah mereka telah terbukti mengabdi pada negara dan bangsanya. Darahnya telah terlihat merah tanpa harus melukai. Ataukah guru-guru tanpa pamrih di pelosok desa.. Aneh sungguh
Jangankan mereka pejuang tak terlihat yang masih hidup, dengan pahlawan yang sudah berkalang tanah saja sekarang seperti tak berbekas. Entah mo kemana putaran bumi membawa Indonesia??
17 Desember 2008
0
Bos lagi jatuh cinta
Bos lagi jatuh cinta????? Ga heran.... siapa coba ga kecantol bos yang tajir dengan mobil mewah berderet... dan penghasilan nyaris menyentuh 12 digit per tahun. Wow... tapi jatuh cinta bos kali ini aga aneh kurasa.
Bos hanya berani mencintai dalam diamnya.. tak berani mengungkapkan sedikit kata, hanya sedikit perhatian yang lebih dari biasanya. Dan perasaan ini dah ada sejak beberapa tahun yang lalu.
Perempuan yang ditaksir, sangat berlawanan dengan yang selalu siap menemani bos. Perempuan sholehah, berjilbab dan tak banyak kata yang terucap. Entah apa dari sisi itu bosku jatuh cinta.
Hanya lewat sorot mata berbinar yang bisa kutangkap setiap perempuan itu lewat. Atau bahasa tubuh yang sering tak sengaja kulihat. Bosku benar-benar jatuh cinta.
Mungkin karena perempuan idaman itu salah satu pegawai kantor, yang konon pantang baginya untuk jatuh cinta ataukah karena memang tak mampu hati bertutur.....
Perempuan itu memang berbeda dari yang ada, tak ada sedikitpun nampak rasa yang biasa ditafsirkan nakal oleh bos. Ataukah hatinya bukan untuk bosku...
Bosku hanya bisa mencintai dari hati... dan membiarkan hatinya bergetar setiap melihat langkah kaki perempuan itu.... dan mengabadikannya dalam sebuah inisial di dalam hati dan salah satu koleksi mobil kesayangannya.
Jatuh cinta memang rumit dan sulit....
Bos hanya berani mencintai dalam diamnya.. tak berani mengungkapkan sedikit kata, hanya sedikit perhatian yang lebih dari biasanya. Dan perasaan ini dah ada sejak beberapa tahun yang lalu.
Perempuan yang ditaksir, sangat berlawanan dengan yang selalu siap menemani bos. Perempuan sholehah, berjilbab dan tak banyak kata yang terucap. Entah apa dari sisi itu bosku jatuh cinta.
Hanya lewat sorot mata berbinar yang bisa kutangkap setiap perempuan itu lewat. Atau bahasa tubuh yang sering tak sengaja kulihat. Bosku benar-benar jatuh cinta.
Mungkin karena perempuan idaman itu salah satu pegawai kantor, yang konon pantang baginya untuk jatuh cinta ataukah karena memang tak mampu hati bertutur.....
Perempuan itu memang berbeda dari yang ada, tak ada sedikitpun nampak rasa yang biasa ditafsirkan nakal oleh bos. Ataukah hatinya bukan untuk bosku...
Bosku hanya bisa mencintai dari hati... dan membiarkan hatinya bergetar setiap melihat langkah kaki perempuan itu.... dan mengabadikannya dalam sebuah inisial di dalam hati dan salah satu koleksi mobil kesayangannya.
Jatuh cinta memang rumit dan sulit....
16 Desember 2008
0
DEMO
Tadi siang, terjadi demo di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar. Sebenernya sih dah biasa macet karena demo. Hanya saja kali ini aku menghadapi demo yang anarkis. Saling lempar batu antara mahasiswa dan polisi. Sampai-sampai polisi menembakkan tembakan peringatan.
Entah apa yang jadi awal, demo jadi anarkis begitu... awalnya demo hanya diintern kampus. Tapi entah tiba-tiba jadi saling serang batu antar polisi dan mahasiswa. Jalanan macet total.
Ternyata banyak orang mengeluh tentang cara mahasiswa saat ini. Terkesan ngawur dan maunya sendiri. Tidak benar-benar konsisten dengan apa yang diperjuangkan. Bahkan ada yang lebih banyak ikut-ikutan tanpa tau apa yang diperjuangkan. Aneh.
Sekedar pembicaraan di atas angkot yang aku naiki tadi siang pas bertepatan demo anarkis tersebut.
Bahkan masyarakatpun merasa dirugikan. Dari sisi rugi waktu, rasa lelah fisik karena macetnya yang luarbiasa, dan rasa takut yang mendera kalo tiba-tiba pas jadi korban anarkis itu. Lantas siapa yang bertanggung jawab???? Tak mungkin menuntut kedua belah pihak, apalagi kampus berkesan angkat tangan.
Bahkan sopir angkotpun dengan sukarela menempel stiker yang diharapkan dibaca dan diimplementasikan dari bagian mahasiswa dengan tulisan " Silahkan demo, tapi jangan ki tutup jalan kodong." Silahkan mengartikan...
Sang sopir pasti berpikir tentang jumlah pendapatan yang hilang gara-gara demo. Berapa rupiah yang hilang dan kerugian bensin yang harus ditanggungnya. Atau malah kerugian jika mobil yang notabene adalah mobil sewa terkena salah lempar. Aduh...
Dan ternyata, mungkin karena bosannya sebagian masyarakat bahkan ada yang mendukung kalo tiba-tiba terjadi penembakan oleh anggota polisi. Dengan konteks pembelaan, polisi juga manusia. Kalo pelanggaran HAM, polisi dan mahasiswa sama-sama bisa dibilang melanggar karena sama-sama manusia.
Alih-alih ada pengorbanan untuk sebuah demokrasi, apakah ini namanya demokrasi kalo harus berkorban untuk sesuatu yang tidak jelas???? atau hanya sekedar ingin dilihat kalo si kampus ini berdemo???
Malah sebagian besar masyarakat mungkin sudah bosan dengan cara-cara demo yang ada saat ini.
Demo ditempat yang tepat, disaat yang tepat dan pengorbanan yang setimpal. Mungkin itu patut dicarikan cara penanganan yang bijak.
Ada selentingan yang terdengar, bahwa banyak perusahaan yang menolak calon yang pegawai yang berijasah kampus-kampus yang terdengar sering demo. Bahkan ada cap "kalo mo terkenal kampus dan mahasiswanya, tawuranlah!"
Stigma ini mo dipertahankan ataukah akan terjadi perubahan.???? Entahlah...
Karena pasti sebagian orang tua, hidup semakin sulit, kerja semakin susah. Tidak usahlah ikut-ikutan demo. Lebih baik selesaikan sekolah, jadi pegawai dan membanggakan orangtua.
Seandainya ada survey yang meneliti berapa persen dari mahasiswa yang sering demo anarkis seperti itu - dan sepertinya mahasiswa yang abadi kuliahnya- yang berhasil menjadi pejabat-pejabat yang bijak??? atau akhirnya sama berkubang di kolam yang sama dengan pejabat-pejabat korup????
Kita tak pernah tau
Entah apa yang jadi awal, demo jadi anarkis begitu... awalnya demo hanya diintern kampus. Tapi entah tiba-tiba jadi saling serang batu antar polisi dan mahasiswa. Jalanan macet total.
Ternyata banyak orang mengeluh tentang cara mahasiswa saat ini. Terkesan ngawur dan maunya sendiri. Tidak benar-benar konsisten dengan apa yang diperjuangkan. Bahkan ada yang lebih banyak ikut-ikutan tanpa tau apa yang diperjuangkan. Aneh.
Sekedar pembicaraan di atas angkot yang aku naiki tadi siang pas bertepatan demo anarkis tersebut.
Bahkan masyarakatpun merasa dirugikan. Dari sisi rugi waktu, rasa lelah fisik karena macetnya yang luarbiasa, dan rasa takut yang mendera kalo tiba-tiba pas jadi korban anarkis itu. Lantas siapa yang bertanggung jawab???? Tak mungkin menuntut kedua belah pihak, apalagi kampus berkesan angkat tangan.
Bahkan sopir angkotpun dengan sukarela menempel stiker yang diharapkan dibaca dan diimplementasikan dari bagian mahasiswa dengan tulisan " Silahkan demo, tapi jangan ki tutup jalan kodong." Silahkan mengartikan...
Sang sopir pasti berpikir tentang jumlah pendapatan yang hilang gara-gara demo. Berapa rupiah yang hilang dan kerugian bensin yang harus ditanggungnya. Atau malah kerugian jika mobil yang notabene adalah mobil sewa terkena salah lempar. Aduh...
Dan ternyata, mungkin karena bosannya sebagian masyarakat bahkan ada yang mendukung kalo tiba-tiba terjadi penembakan oleh anggota polisi. Dengan konteks pembelaan, polisi juga manusia. Kalo pelanggaran HAM, polisi dan mahasiswa sama-sama bisa dibilang melanggar karena sama-sama manusia.
Alih-alih ada pengorbanan untuk sebuah demokrasi, apakah ini namanya demokrasi kalo harus berkorban untuk sesuatu yang tidak jelas???? atau hanya sekedar ingin dilihat kalo si kampus ini berdemo???
Malah sebagian besar masyarakat mungkin sudah bosan dengan cara-cara demo yang ada saat ini.
Demo ditempat yang tepat, disaat yang tepat dan pengorbanan yang setimpal. Mungkin itu patut dicarikan cara penanganan yang bijak.
Ada selentingan yang terdengar, bahwa banyak perusahaan yang menolak calon yang pegawai yang berijasah kampus-kampus yang terdengar sering demo. Bahkan ada cap "kalo mo terkenal kampus dan mahasiswanya, tawuranlah!"
Stigma ini mo dipertahankan ataukah akan terjadi perubahan.???? Entahlah...
Karena pasti sebagian orang tua, hidup semakin sulit, kerja semakin susah. Tidak usahlah ikut-ikutan demo. Lebih baik selesaikan sekolah, jadi pegawai dan membanggakan orangtua.
Seandainya ada survey yang meneliti berapa persen dari mahasiswa yang sering demo anarkis seperti itu - dan sepertinya mahasiswa yang abadi kuliahnya- yang berhasil menjadi pejabat-pejabat yang bijak??? atau akhirnya sama berkubang di kolam yang sama dengan pejabat-pejabat korup????
Kita tak pernah tau
11 Desember 2008
0
Sibuk....pusing...
Aduh... sebulan ini sepertinya Dewi Fortune tak berpihak kepadaku....
Malah dikasih kerjaan yang lumayan banyak jumlahnya.... dan lumayan banyak menyita waktu....
Dapet orderan bikin kotak souvenir untuk tamu di kantor suami. Awalnya 200 orang, tapi untunglah susut jadi 100 aja..... Yah walaupun tender kerja bakti (karena aku sendiri yang kerja) tapi itung-itung amal dah.... honornya... lumayan untuk beli pulsa 2 bulan....
Bikin kotak souvenir, ga pernah terbayangkan... maklum selain slebor, aku lebih cenderung sebagai orang yang ga sabaran. Sekalipun aga kreatif (sesekali lho... dan harus kepepet) tapi kalo disuruh milih kerja souvenir ato kerja nyuci... pasti ga dua-duanya dah....
Entah angin apa yang berhembus di seputaran rumah ibu ketua, tiba-tiba muncullah keputusan aku yang bikin. Aduh mak..... ga bisa tidur dah seminggu, bolak-balik ke toko buku untuk cari inspirasi cara buat kotak souvenir, ditambah cari bahan yang dimau ibu ketua yang sulit di dapat di makassar. Seminggu muterin pasar se makassar hanya untuk cari plastik penutup kotak. Ditambah sering ngigau bikin kotak (cerita dari suami). Alamaaaakkk
Akhirnya jadilah 1 dari 100 kotak souvenirnya yang dipesan dan disetujui ma ibu ketua, meskipun harus bolak-balik kerumahnya untuk diseleksi.
Saking keselnya dan desperado karena dah muter-muter beli bahan dan.... ditolak..
akhirnya aku iseng-iseng bikin tempat alat tulis dari botol bekas selai ( ssttt... botolnya ngembat punya boss) dan .... inilah.....

Nah, belum selesai cerita kotak souvenir, tiba-tiba minggu ini ada lagi kegiatan yang butuh tenaga dan pikiran (lebih capek dari yoga...)
Aduh.... rasanya pinggang dah mo copot, kepala dah nyut..nyut...

Malah dikasih kerjaan yang lumayan banyak jumlahnya.... dan lumayan banyak menyita waktu....
Dapet orderan bikin kotak souvenir untuk tamu di kantor suami. Awalnya 200 orang, tapi untunglah susut jadi 100 aja..... Yah walaupun tender kerja bakti (karena aku sendiri yang kerja) tapi itung-itung amal dah.... honornya... lumayan untuk beli pulsa 2 bulan....

Bikin kotak souvenir, ga pernah terbayangkan... maklum selain slebor, aku lebih cenderung sebagai orang yang ga sabaran. Sekalipun aga kreatif (sesekali lho... dan harus kepepet) tapi kalo disuruh milih kerja souvenir ato kerja nyuci... pasti ga dua-duanya dah....
Entah angin apa yang berhembus di seputaran rumah ibu ketua, tiba-tiba muncullah keputusan aku yang bikin. Aduh mak..... ga bisa tidur dah seminggu, bolak-balik ke toko buku untuk cari inspirasi cara buat kotak souvenir, ditambah cari bahan yang dimau ibu ketua yang sulit di dapat di makassar. Seminggu muterin pasar se makassar hanya untuk cari plastik penutup kotak. Ditambah sering ngigau bikin kotak (cerita dari suami). Alamaaaakkk

Akhirnya jadilah 1 dari 100 kotak souvenirnya yang dipesan dan disetujui ma ibu ketua, meskipun harus bolak-balik kerumahnya untuk diseleksi.
Saking keselnya dan desperado karena dah muter-muter beli bahan dan.... ditolak..
akhirnya aku iseng-iseng bikin tempat alat tulis dari botol bekas selai ( ssttt... botolnya ngembat punya boss) dan .... inilah.....
Nah, belum selesai cerita kotak souvenir, tiba-tiba minggu ini ada lagi kegiatan yang butuh tenaga dan pikiran (lebih capek dari yoga...)
Aduh.... rasanya pinggang dah mo copot, kepala dah nyut..nyut...
01 Desember 2008
0
Semua ada masanya
Pemahamanku lebih dalam dengan kata-kata itu "Semua ada masanya" berulang kali aku ucapkan. Karena memang kita tak pernah tau masa depan. Dan jangan pernah membuka tirai masa depan, karena akan ada penyesalan nantinya.
Ini sudah masanya bagi Penny, sahabatku untuk menyudahi pernikahannya. Sudah tak ada tenaga untuk bertahan, dan tidak ada hati yang dapat membesarkan dirinya, memberi harapan.
Sudah masanya Penny untuk terbuka mata hatinya, bahwa menuruti emosi cinta, dan janji-janji hanya akan membuatnya sengsara nanti. Dan ini sedang dia rasakan.
Mabuk cinta ketika muda, menikah 9 tahun, tanpa arah kapal berlayar, dan nahkoda yang tak pernah mampu untuk dewasa. Dia merasa sendiri.
Putus asa melihat hidupnya, putus asa melihat hatinya yang hancur, putus asa tak ada dukungan dari orang-orang terdekat karena merekapun telah lama hancur.
Tuhan masih menyayanginya, sahabat lama menghibur dan menguatkannya, setidaknya tidak membuatnya semakin mantap untuk mengakhiri hidupnya.
Kini Penny masih bisa tersenyum, diantara getir hidupnya. Ini masanya dia harus bangkit dan kembali mengambil kendali,karena suami tak mampu berusaha.Melepaskan beban hidup karena hidup belum berakhir, dan masa depannya masih panjang.
Semua ada masanya, masa ketika mabuk asmara, masa merenungi makna pernikahan, dan masa untuk bangkit dari keterpurukan.
Perenungan dari Penny, kita tak pernah mengharapkan perpisahan, tapi kita juga tak pernah tau masa depan. Biarlah waktu berjalan, dan semoga Tuhan memberikan yang terbaik pada kita.... semua indah pada saatnya
Ini sudah masanya bagi Penny, sahabatku untuk menyudahi pernikahannya. Sudah tak ada tenaga untuk bertahan, dan tidak ada hati yang dapat membesarkan dirinya, memberi harapan.
Sudah masanya Penny untuk terbuka mata hatinya, bahwa menuruti emosi cinta, dan janji-janji hanya akan membuatnya sengsara nanti. Dan ini sedang dia rasakan.
Mabuk cinta ketika muda, menikah 9 tahun, tanpa arah kapal berlayar, dan nahkoda yang tak pernah mampu untuk dewasa. Dia merasa sendiri.
Putus asa melihat hidupnya, putus asa melihat hatinya yang hancur, putus asa tak ada dukungan dari orang-orang terdekat karena merekapun telah lama hancur.
Tuhan masih menyayanginya, sahabat lama menghibur dan menguatkannya, setidaknya tidak membuatnya semakin mantap untuk mengakhiri hidupnya.
Kini Penny masih bisa tersenyum, diantara getir hidupnya. Ini masanya dia harus bangkit dan kembali mengambil kendali,karena suami tak mampu berusaha.Melepaskan beban hidup karena hidup belum berakhir, dan masa depannya masih panjang.
Semua ada masanya, masa ketika mabuk asmara, masa merenungi makna pernikahan, dan masa untuk bangkit dari keterpurukan.
Perenungan dari Penny, kita tak pernah mengharapkan perpisahan, tapi kita juga tak pernah tau masa depan. Biarlah waktu berjalan, dan semoga Tuhan memberikan yang terbaik pada kita.... semua indah pada saatnya
0
Reunian di dunia maya
Satu bulan ini episode my luv blog lebih ke Reuni SMA. Ternyata bukan cuman aku yang kangen masa SMA dulu... tapi juga beberapa temen-temen. Berhubung tempatnya berjauhan akhirnya internetlah makcomblang hubungan reuni.
Yang konyolnya lagi pas reunian ma Ichal temenku, yang sueb tak terbesit sedikitpun nama dan wajahnya dipikiranku. Pithik- salah satu yang punya link banyak tiba-tiba ngajak confrence. Wah...
Tiba-tiba muncul Ichal, yang lebih tenar dipanggil Mendhol. Ga tau tiba-tiba dia nanya..."Ini dini mana??? Dini kunam (kebalikan nama kelas yang artinya manuk / burung) Entah apa muasal julukan itu... padahal yang sesungguhnya kelas 1.6.
Dan langsung otakku berputar membalikkan ingatan di masa SMA... Ichal siapa????
Muncullah kata-kata yang mengejutkan hati " Never say good bye air suply yang dinyanyiin Khoirul pas perpisahan....
Oh my God, aku lupa kejadian itu....
Kamu bersandar di lenganku, sambil nyanyiin Never Say Goodnye..... Ini dini kunam yang manis itu kan??? Pada masanya lho....
Oh my God, ayo cepat kembalikan cerita kenangan itu, agar aku bisa mengenali sosoknya...
Never Say Goodbye.....
Oh God, who is he????? Rasanya aku ingin masuk di dalam pikiranku untuk mempercepat jalannya putaran otakku.
Itu masih jadi lagu kesukaanku lho....
Ya ampyun... aku menyerah... tak sanggup membuat memoriku berputar cepat mengingatnya....
Mungkin karena dia merasa tak dikenali, tiba-tiba muncullah foto SMA yang culun banget. Astaganaga..... aku memang pernah dekat dengannya... hanya karena dia satu genk ma dodi, salah satu sohib kelasku... Tapi sayangnya, sampe sekarang cerita Never Say Goodbye dan bersandar di lengan, tak dapat kuingat jelas.
Yang kuingat, hanya sampai si Khoirul bernyanyi Never Say Good Bye... hanya itu...
Tapi, pasti takkan mengurangi pertemanan kita......
Yang konyolnya lagi pas reunian ma Ichal temenku, yang sueb tak terbesit sedikitpun nama dan wajahnya dipikiranku. Pithik- salah satu yang punya link banyak tiba-tiba ngajak confrence. Wah...
Tiba-tiba muncul Ichal, yang lebih tenar dipanggil Mendhol. Ga tau tiba-tiba dia nanya..."Ini dini mana??? Dini kunam (kebalikan nama kelas yang artinya manuk / burung) Entah apa muasal julukan itu... padahal yang sesungguhnya kelas 1.6.
Dan langsung otakku berputar membalikkan ingatan di masa SMA... Ichal siapa????
Muncullah kata-kata yang mengejutkan hati " Never say good bye air suply yang dinyanyiin Khoirul pas perpisahan....
Oh my God, aku lupa kejadian itu....
Kamu bersandar di lenganku, sambil nyanyiin Never Say Goodnye..... Ini dini kunam yang manis itu kan??? Pada masanya lho....
Oh my God, ayo cepat kembalikan cerita kenangan itu, agar aku bisa mengenali sosoknya...
Never Say Goodbye.....
Oh God, who is he????? Rasanya aku ingin masuk di dalam pikiranku untuk mempercepat jalannya putaran otakku.
Itu masih jadi lagu kesukaanku lho....
Ya ampyun... aku menyerah... tak sanggup membuat memoriku berputar cepat mengingatnya....
Mungkin karena dia merasa tak dikenali, tiba-tiba muncullah foto SMA yang culun banget. Astaganaga..... aku memang pernah dekat dengannya... hanya karena dia satu genk ma dodi, salah satu sohib kelasku... Tapi sayangnya, sampe sekarang cerita Never Say Goodbye dan bersandar di lengan, tak dapat kuingat jelas.
Yang kuingat, hanya sampai si Khoirul bernyanyi Never Say Good Bye... hanya itu...
Tapi, pasti takkan mengurangi pertemanan kita......
Langganan:
Postingan (Atom)




